Failing to Plan, is Planning to Fail.

Failing to Plan, is Planning to Fail.

Failing to Plan, is Planning to Fail.. 

Arti Yusdiarti, SP., MM.

 

Banyak organisasi yang mengalami ketidakpastian pertumbuhan, bahkan kejatuhan, akibat adanya goncangan-goncangan atau kedinamisan baik di lingkungan internal maupun eksternal. Ibarat sebuah kapal yang tengah melaju tanpa tahu arah tidak akan memahami medan yang mereka hadapi. Tanpa persiapan kekuatan kapal, ketercukupan bahan bakar, peralatan keselamatan, pemahaman navigasi, kru yang mumpuni dan persediaan makanan bagi semua kru, niscaya perahu tersebut hanya akan terdampar di pulau tanpa memperoleh apa yang diinginkan. Lebih parah lagi, kapal tersebut rapuh dan mudah tenggelam.

Beberapa orang mengatakan bahwa adanya perencanaan menjadikan hidup menjadi terlalu terprediksi dan tidak ada tantangan. Dalam hal sederhana, seperti perjalanan beberapa hari sekedar melancong ke suatu tempat, mungkin perencanaan tidak selalu diperlukan. Namun dalam hal yang bersifat major (besar dan penting), perencanaan menjadi sangat penting untuk memperoleh kesuksesan karena kita dapat menentukan arah tujuan, cara untuk mencapai arah tersebut, dan apa yang harus dilakukan jika menemui kesulitan atau masalah yang dapat berdampak signifikan terhadap hidup perusahaan.  Perencanaan menjadi solusi terbaik untuk fokus pada arah yang dituju dan membuat keputusan berdasarkan skala prioritas yang merunut pada arah tersebut, sehingga perusahaan tidak akan melakukan kegiatan terkait investasi dalam jumlah besar di tempat yang salah, misalkan proyek yang tidak menguntungkan, tidak menunjang fokus tujuan yang telah dibuat, atau melakukan proyek yang tidak didukung dengan sumberdaya yang memadai.

Perencanaan strategis berasal dari analisis SWOT yang mumpuni, sebagaimana telah disinggung di artikel sebelumnya. Adapun Level perencanaan/tujuan dapat distrata menjadi suatu hierarkhi sebagaimana tertera pada gambar di bawah.

Pada level yang paling atas, atau level paling utama, adalah penentuan visi dan misi. Visi dan misi bersifat jangka panjang. Visi misi berisi pernyataan bagi investor, konsumen, supplier atau komunitas. Visi misi sebaiknya fokus namun cukup luas dan luwes dalam menghadapi perubahan lingkungan.  Visi biasanya terdiri dari satu kalimat, dan misi menjadi penjabaran visi secara singkat.

Pada level kedua, yaitu rencana strategis (Renstra). Rencana Strategis menjadi uraian bagaimana perusahaan dapat mencapai visi dan misi dalam jangka panjang. Rencana strategis berisi perencanaan pengembangan perusahaan secara general, tujuan perusahaan, indikator dan kebijakan. Turunan dari rencana strategis adalah rencana operasional yang berisi bagaimana unit kerja dapat mencapai tujuan perusahaan dan dapat memenuhi indikator yang dibuat.

Strategi level unit bersifat lebih dinamis dibandingkan strategi level perusahaan, namun kedinamisannya masih berada dalam koridor yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Apapun yang akan dilakukan oleh perusahaan, harus merujuk pada kebijakan dan tujuan perusahaan, sehingga tidak kehilangan arah. Perencanaan strategi yang tepat membuat perusahaan lebih fokus dalam beroperasi dan mampu berkompetisi di suatu industri.   

Dipost Oleh Super Administrator

No matter how exciting or significant a person's life is, a poorly written biography will make it seem like a snore. On the other hand, a good biographer can draw insight from an ordinary life-because they recognize that even the most exciting life is an ordinary life! After all, a biography isn't supposed to be a collection of facts assembled in chronological order; it's the biographer's interpretation of how that life was different and important.

Post Terkait

Tinggalkan Komentar